ILM GHARÎB AL-HADÎTS

ILM GHARÎB AL-HADÎTS

          Rasûlullâh Saw bukan hanya menyampaikan Alquran apa adanya, melainkan juga memberikan penjelasan (bayân) yang berwujud sebagai hadis. Dengan demikian hadis dalam pengertian yang umum adalah bayân terhadap Alquran. Sebagai bayân, hadis mempunyai lafazh dan makna yang dapat dimengerti orang banyak. Sebab tidak ada makna penjelasan kalau tidak dimengerti atau kalau penjelasan itu perlu kepada penjelasan lain.

Hadis sebagai penjelas syari’at bersifat jelas dan memang begitulah keadaannya pada masa Rasûlullâh Saw. Para shahâbiy dapat memahami apa yang disampaikan oleh Rasûlullâh Saw. apa yang dijelaskan oleh Rasûlullâh Saw tidak ada yang diterima hanya dengan sekedar mendengar, tetapi juga faham akan apa yang disampaikan. Kalau pun ada senagian kecil dari ucapan atau tindak tanduk Nabi yang tidak dimengerti, maka shahâbat dapat bertanya lengsung kepada Nabi Saw.

Sungguhpun demikian, dari sisi lain, hadis adalah sejumlah makna yang diikat dengan kata-kata yang berbahasa Arab. Bahasa Arab sama dengan bahasa lain, terus mengalami perkembangan. Hal ini menyebabkan kata-kata yang pada masa tertentu (katakanlah pada masa Nabi Saw) digunakan secara umum dan mudah difahami umum, tetapi dalam perkembangannya, kata-kata dimaksud jarang digunakan, atau malah tidak digunakan sama sekali. Dengan demikian timbullah dua macam bahasa, yaitu bahasa ‘âm yang diketahui umum dan bahasa khâsh yang hanya dipahami oleh orang-orang tertentu saja.

Perkembangan bahasa lebih cepat terjadi bila bahasa tertentu bersentuhan dengan bahasa-bahasa lain. Hal ini memang dialami oleh bahasa Arab dengan banyaknya orang-orang yang bukan berbahasa Arab masuk Islam. lalu, terjadi akulturasi budaya. Terutama ketika bahasa Arab bersentuhan dengan ‘ajam. Ini terjadi terutama setelah penaklukan Islam dan penyebaran pada shahâbiy ke negeri-negeri taklukan dimaksud.

Dampak persentuhan budaya ini, banyak kosa kata Arab yang dulunya dapat dipahami dengan mudah oleh generasi awal, menjadi jarang atau malah tidak lagi terpakai. Kenyataan ini berdampak langsung kepada tidak saja Alquran (gharîb al-Qur’ân) melainkan juga hadis (gharîb al-hadîts). Akibatnya hadis Rasûlullâh Saw yang berbahasa Arab itu, dalam perkembangannya ada yang sulit dimengerti sehingga memerlukan uraian-uraian dari pihak-pihak yang mengetahui bahasa khâsh, yaitu para ilmuwan umumnya dan ilmuwan hadis khususnya. Untuk tujuan ini para ilmuwan hadis mengarang kitab-kitab khusus yang menjelaskan kata-kata yang gharîb (sulit dimengerti) dari sekian banyak hadis Rasûlullâh Saw sebagai upaya antisipasi dan solusi terhadap kenyataan di atas kemudian lahir satu cabang ilmu khusus yang kemudian popular dengan nama ‘Ilm Gharîb al-Hadîts.

Ilmu itu telah mendapat perhatian dan dibicarakan oleh sejumlah kalangan atbâ’ al-tâbi’în, seperti Mâlik, al-Tsawriy, dan Syu’bah. Sementara ilmuwan yang pertama yang menyusun dalam bentuk kitab adalah al-Nadhr ibn Syumail (w. 203 H.).(Al-Hâkim, 1977: 88) Sungguhpun demikian, pen-tahqîq kitab al-Nihâyah menyebutkan bahwa yang pertama menyusunnya adalah Abû ‘Ubaidah Ma’mar ibn al-Mutsannâ al-Taimiy (w. 210 H.). Perbedaan ini sebenarnya tidak begitu penting, apalagi kedua tokoh ini hidup semasa.(Ibn Jamâ’ah, 1406: 63)

 

DAFTAR SUMBER DAN RUJUKAN

Al-Hâkim, al-Naysâbûriy. Ma’rifat ‘Ulûm al-Hadîts. Bairût: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah. 1977. Cet. II.

Ibn Jamâ’ah, al-Mihal al-Rawiy. Dimasyq: Dâr al-Fikr, 1406. Cet. II.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: